Rabu, 22 Juli 2015

Jilbab Syar’i Style : Oase atau Fatamorgana?

SALAH satu segi lain munculnya tren hijabers, yaitu kriteria jilbab mulai sejak terabaikan, yakni bukan baju syuhrah atau baju kebanggaan. Padahal haditsmengemukakan;

“Siapa yg memanfaatkan baju syuhrah di dunia, sehingga Allah bakal memberinya baju hina terhadap hri kiamat.” (HR Ahmad, Abu Daud, & An Nasai dalam Sunan Al Kubra).

Penilaian berkaitan baju kebanggaan ini pasti teramat personal. Benar-benar, orang yg memamerkan baju belum pasti berarti sedang membanggakan baju tersebut.Lantaran kebanggaan merupakan sesuatu yg bersifat abstrak dalam hati.

Boleh menjadi, orang yg tak memamerkan pakaiannya juga sedang bangga dgn pakaiannya justru lantaran dia tak memamerkan baju tersebut. Tetapi, juga sebagaiMuslimah yg mencari keutamaan dalam menutup aurat, menghindari pamer baju di sarana sosial pasti lebih mutlak utk menjaga diri & hati.

Kepada kala yg sama, artis-artis seperti Lira Virna, Peggy Melati Sukma, atau Oki Setiana Dewi tampil di depan publik bersama jilbab syar’i yg gamis & jilbabnya senada –bahan & warnanya. Pasar cepat menangkap kesempatan komoditas jilbab baru.

Model-model jilbab gaya artis-artis ini mulai sejak marak dgn kategori bahan yg bernilai mahal hingga dgn bernilai murah. Kembali, Muslimah dihadapkan kepada citra-citra lama bersama wujud yg baru. Seperti yg disebutkan terhadap sekian banyak bab pada awal mulanya, yg mutlak dalam mitos yaitu pesannya bukan wujudnya.

Citra wanita kelas atas kepada jilbab syar’i yg serupa bersama baju para seleb jadi mitos lama yg muncul bersama wujud baru. Citra keshalihan ala wanita kelas atas muncul dalam baju kategori ini.

Citra ini dipelihara bersama baik oleh pembuat jilbab syar’i ala seleb. Jilbab yg di desain satu set berbahan jersey mutu rendah juga beredar di pasaran. Gamis lebarnamun menempa atau membentuk kepada sektor tangan, paha, pantat, & dada sejak mulai marak dipakai Muslimah. Sektor kerudungnya lebar hingga menutup pantattetapi tak menutup wujud payudara terhadap sektor dada lantaran bahannya menempel di tubuh. Kerudung instan yg lebar tersebut bukannya menutupi aurat melainkan justru mengekspos aurat.

Oleh oleh karenanya, jilbab syar’i bukan cuma mesti diperhatikan wujudnya tetapi pula bahannya. Memakai baju yg serba lebar benar-benar berisiko gerah. Pembuatjilbab menyiasatinya bersama pilih bahan jersey yg menyerap keringat. Tetapi, nyatanya pemilihan bahan ini justru melanggar aturan jilbab. Rasa gerah ini yaitukonsekuensi logis berjilbab di negeri beriklim tropis.

Sbg wacana yg memakai aturan keagamaan, jilbab style & jilbab syar’i berkembang di tataran nilai ataupun product.

Kemampuan jilbab style yg sudah jadi mitos di kalangan Muslimah ialah sektor yg tak tersentuh oleh aktivis jilbab syar’i yg terjun dalam pasar fashion ini. Mayoritaspembuat jilbab syar’i menghadirkan hijab-hijab lebar yg wujudnya serupa bersama jilbab style. Tawaran yg diperlukan utk memasarkan produk-produk ini terus tak jauhtidak serupa bersama mitos jilbab style merupakan elegan syar’i atau stylish nan syar’i.

Dua nilai ini terang masihlah menguatkan mitos jilbab style juga sebagai pemenuhan hasrat kecantikan & jilbab style juga sebagai mitos modernitas. Istilah jilbab seolahtelah tak mengakomodasi syariat yg diperintahkan Islam dalam berpakaian bagi wanita. Dirinya mesti diembeli kata style atau syar’i sbg diferensiasi. Muslimah kembali tertipu & jadi korban lifestyle konsumerisme yg disuntikkan pasar. Kekusaan pasar menciptakan jilbab syar’i yg semula diharap-harap jadi satu buah oase beralih jadifatamorgana. Jilbab sbg identitas ideologis waktu ini cuma jadi identitas berpakaian yg teramat permukaan.

Sumber : Vemale

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar